20201012_213650
Foto Bersama Ketiga Suku Saat Blusukan Calon Bupati dan Wakil Bupati Bima IN DAH Nomor Urut 3. Foto - Ist

Suku Bali, Sasak dan Timur di Tambora Komit Menangkan Pasangan Nomor Urut 3

  1. KABUPATEN BIMA – Tiga suku yakni suku Bali, Suku Sasak (Lombok), dan Suku Timur, yang hidup di lereng Gunung Tambora, tepatnya di Desa Oi Bura, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), komit untuk memenangkan paslon nomor urut 3, yakni Indah Dhamayanti Putri (IDP)-Dahlan M. Noer, pada Pilkada 9 Desember 2020 mendatang.

Kesepakatan itu disampaikan oleh masing masing kepala suku saat Paslon IDP-Dahlan, yang merupakan paslon petahana saat menggelar blusukan serta tatap muka dengan warga Desa Oi Bura, Kabupaten Bima, Minggu (11/10/20).

Menurut salah seorang Kepala Suku atau petuah yang dipercaya masyarakat setempat, komitmen mendukung paslon IDP-Dahlan merupakan satu-kesatuan yang telah dibangun berdasarkan hasil musyawarah dan mufakat bersama.

“Hasil koordinasi antar suku itu, tak lain hanya untuk membangun keindahan kampung serta menata desa yang ada di lereng Gunung Tambora. Kita sepakati bersama bahwa untuk melanjutkan pembangunan Desa Oi Bura, haruslah dengan melanjutkan pemerintahan sebelumnya yang dipimpin oleh IDP-Dahlan,” jelas Kepala Suku Bali, Desa Oi Bura, Tirta.

Diakui oleh warga, selama lima tahun menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bima, IDP-Dahlan mampu memberikan kontribusi yang riil untuk kemajuan desa mereka. Di antara hasil pembangunan yang sangat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat, yakni pembangunan infrastruktur jalan dari Desa Labuan Kenanga, menuju perkampungan Desa Oi Bura, di lereng Gunung Tambora.

“Dengan adanya pengaspalan jalan, masyarakat sudah tidak lagi khawatir akan jalan licin yang kerap menimbulkan terjadinya kecelakaan. Selain itu, IDP-Dahlan pun mampu menyatukan serta membina keharmonisan antar umat beragama di Desa Oi Bura. Kita tahu sendiri bahwa di lereng Gunung Tambora ini terdapat berbagai etnis, agama, ras, dan suku yang berbeda,” tuturnya.

Hal yang sama juga diakui oleh salah seorang tokoh agama desa setempat, Ketut Santika. Sebagai tokoh penghubung antar umat beragama, Ketut Santika merasa betul akan adanya perubahan selama kepemimpinan IDP-Dahlan periode pertama. Akan tetapi, sangat diharapkan pula agar dalam waktu dekat ini bisa kembali melanjutkan pengaspalan jalan yang masih tersisa.

“Perubahan itu sudah kami rasakan sejak tahun 2015. Saat ini tinggal melanjutkan saja misi “BIMA RAMAH” dengan kepemimpinan sekarang. Semoga saja jalan licin yang kerap menimbulkan kecelakaan khusus bagi pelajar, segera teratasi,” harap Santika. (Dhaenk).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *