98201922307
Ashar, S. Yaman. Foto: Ist.

Sektor Formal, Massa Terorganisir Yang Rapuh

Oleh: Ashar, S. Yaman

LENSABIMA.COM.- Di daerah manapun di republik ini, sektor formal (birokrasi dan pemerintah) bukan hanya sekedar pelayan kepentingan rakyat, tetapi juga menjadi pelayan kepentingan politik kelas yang sedang berkuasa, peran ganda sektor formal ini kemudian menjadikannya punya pengaruh, dekat dengan kelas berkuasa, juga dekat dengan rakyat, sektor formal seiring berjalannya waktu menjadi medio broker, begitu kuat, tetapi juga rapuh.

Karena sektor formal merupakan ujung tombak pelayanan publik, maka kelas berkuasa mengandalkan mereka untuk mobilisasi demi kepentingan politik elit yang sedang berkuasa, sektor formal hanya loyal pada kelas yang sedang berkuasa, loyalitas yang rapuh.

Karena didalam tubuh birokrasi sektor formal ada kalkulasi kekuasaan, opurtunisme juga bagian dari birokrasi, mereka tidak segan-segan melompat atau mengalihkan dukungan jika tidak menguntungkan, fenomena ini bisa dilihat pada, pilkada Kab.Bima 2014, pilkada kota Bima 2018, Jabatan eselon I dan II itu jabatan politik, mau tidak mau, Pemangku jabatan dibirokrasi harus terlibat dalam politik kekuasaan.

Pilkada bukan hanya soal mempertandingkan kepentingan Calon kepala daerah yang sedang berkompetisi didepan panggung , tetapi juga kepentingan pejabat-pejabat di belakang panggung. hal ini bisa dilihat dari pembentukan relawan dan organ taktis pemenangan dalam pilkada, inisiotornya dominan dari kalang ASN atau pejabat yang juga berburu jabatan atau mempertahankan jabatan, jadi Pilkada bukan hanya pertarungan tunggal didepan layar, tetapi juga kasak kusuk kelompok medio broker dibelakang layar.

Mungkin apa yang ditangkap publik, lembaga sektor formal, itu solid, utuh 100%, sistem komando, tidak sepenuhnya benar, tokoh-tokoh sektor formal juga punya kalkulasi politis, ada opurtunisme disana, kalo tidak menguntungkan, tinggalkan. Meskipun Sektor formal tidak berani tampil sebagai opinion maker (pembuat opini) dalam penggiringan opini publik, tentu karena ASN dibatasi oleh undang-undang, namun mereka mampu memproduksi opini lewat centeng-centengnya dilapangan, apalagi sekarang jaman Smart Phone Android, transaksi informasi dan instruksi, bekerja lebih cepat dari apa yang ada dalam bayangan publik, sembunyi tetapi akan terlihat dari aktor-aktor lapangan yang mereka pelihara.

Media sebagai instrumen demokrasi, memainkan peranan penting dalam percepatan transaksi informasi diruang publik, kelompok media broker ini sangat dekat dengan media, produksi dan reproduksi opini dibuat hampir setiap menit, mereka paham betul bagaimana cara menggunakan media dalam proses demokrasi politik.

Hubungan petahana dan Kelompok medio broker dibirokrasi, birokrasi lebih tua usianya dari pada umur Eksekutif (bupati, walikota, Gubernur) Loyalitas sektor formal terbatas, bukan tidak terbatas, ada hubungan yang saling menguntungkan antara Eksekutif dan Kelompok medio broker ini, selama ada keuntungan selama itu mereka loyal, loyalitas yang rapuh ini, bisa dimanfaatkan oleh penantang Petahana, jargon sektor formal “kemana arah angin berhembus” Mereka hanya loyal pada kepentingannya mempertahankan posisi dan jabatan, bukan loyalitas buta.

Jika Sebagian dari kita menganggap kekuatan sektor formal itu hanya loyal pada petahana, itu asumsi yang keliru, sektor formal hanya loyal pada kepentingannya sendiri, sektor formal punya dapurnya sendiri, yang hanya sebagian bisa dimasuki eksekutif, sisanya mereka masak sendiri.

Kontestasi pilkada bukan hanya sekedar pertandingan kandidat lawan kandidat, tetapi juga Kasak-kasuk birokrasi dibelakang layar. walahualam. (Lb**).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *