692019221759
Suasana Pertemuan Solud Dengan Masyarakat, pemdes, BPD, dan Keterwakilan Perempuan di Aula Kantor Desa Dadibou

Paparkan Modul III, Solud NTB Gelar Sekar Desa di Dadibou

Kabupaten Bima, LENSABIMA.COM.- Solud Kabupaten Bima menggelar Sekolah Anggaran Desa (Sekar Desa), Modul III, Selasa (09/07/19) di Desa Dadibou Kecamatan Woha Kabupaten Bima NTB. 

Sekar Desa yang diadakan melalui Program Desa Melek Anggaran untuk Pembangunan Desa yang Inklusif dan Responsif Gender kerjasama SOLUD NTB sebagai Simpul Jaringan Seknas FITRA Indonesia dan KOMPAK Indonesia yang didukung oleh Pemerintah Kabupaten Bima, Kementerian Desa PDTT dan Pemerintah Australia.

Community Organizer Program Desa Melek Anggaran untuk Pembangunan Desa yang Inklusif dan Responsif Gender dari Perkumpulan Solud sebagai Simpul Jaringan Sekna FITRA menyampaikan, perencanaan pembangunan desa adalah proses tahapan kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah Desa dengan melibatkan Badan Permusyawaratan Desa dan unsur masyarakat secara partisipatif guna pemanfaatan dan pengalokasian sumberdaya yang ada di desa.

“Itu telah diatur dalam Permendagri No. 114 tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa,” jelasnya.

Katanya, penganggaran desa merupakan proses menentukan kebijakan anggaran desa, sejauhmana anggaran desa responsif terhadap kebutuhan-kebutuhan kelompok masyarakat, khususnya kelompok perempuan, penyandang disabilitas, lansia, anak, dan masyarakat rentan lainnya.” Perencanaan pembangunan desa yang baik adalah perencanaan yang didukung oleh sejumlah data serta informasi yang memadai,” ungkapnya.

Untuk itu, hal yang perlu diketahui dalam proses perencanaan dan penganggaran desa adalah memahami kondisi umum desa dan masyarakat desa, memahami alur perencanaan dan penganggaran desa dan memahami peran masing-masing kelembagaan yang ada di desa serta kelompok-kelompok masyarakat yang ada.” Kelompok masyarakat itu mulai dari kelompok perempuan hingga kelompok rentan,” bebernya.

Lanjutnya, pada pokok bahasan ketiga, materi-materi yang disampaikan yakni, konsep dan pendekatan perencanaan dan penganggaran desa, refleksi pelaksanaan perencanaan dan penganggaran di desa, praktik pencegahan korupsi.” Dengan begitu peserta diharapkan bisa memahami dan aptualisasikan materi-materi tersebut,” ujarnya.

Ketua BPD Dadibou Yusuf Hadu yang ditemui oleh media ini mengatakan, lewat kegiatan tersebut masyarakat mendapatkan banyak pengetahuan yang baru, tentang pengelolaan desa. Baik sistem penggunaan anggaran dan perencanaan hingga pelaporan.” Sekecil apapun masalah yang ada di desa, kami pelajari di sini,” ujarnya.
Kata Yusuf, selama ini kewenangannya di pemerintah desa sering diabaikan karena adanya peraturan daerah. Lewat kegiatan ini pihaknya mengetahui banyak hal termasuk Kemendagri yang mengatur tentang desa.” Rujukan kita ternyata adalah Kemendagri. Itu aturan yang tinggi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dusun Godo Umar A Gani, Merasa bersyukur dengan adanya kegiatan tersebut. Pasalnya, melalui kegiatan tersebut, dirinya bersama masyarakat dapat meningkatkan ilmu dan pengetahuan tentang desa.” Kami sangat berayukur. Kegiatan ini sangat bermanfaat buat kami,” ujarnya.

Dijelaskanya, sejumlah pengetahuan baru yang didapat dari kegiatan tersebut yakni peran dan fungsi lembaga-lembaga desa, tata kelola keuangan dana desa mulai dari perencanaan hingga pelaporan, dan konsep desa membangun dan membangun desa.” Sejumlah masalah yang ditemukan dalam penyelenggaraan pemerintah desa selama ini juga terpecahkan dalam kegiatan ini,” bebernya.

Sambungnya, kegiatan tersebut tidak berhenti sampai kali ini. Namun berkelanjutan secara terus menerus agar pemahaman masyarakat dan seluruh lembaga desa tentang desa tuntas.” Kegiatan seperti ini harus dilanjutkan. Minimal 2 kali sebulan,” harapnya.

Perwakilan perempuan Atika Syafruddin mengatakan, dirinya baru kali ini diundang dalam kegiatan yang seperti itu. Dirinya mengaku bersyukur, karena bisa mendapat banyak pengetahuan dari kegiatan itu.” Masalah anggaran desa, macam-macam kegiatan desa, sistem pelaporan kegiatan desa, dan peran BPD dibahas di kegiatan ini,” katanya.

Sebagai kader posyandu ia berharap kedepan pemerintah desa bisa menganggarkan pembangunan gedung posyadu. Pasalnya di desa setempat belum memiliki gedung posyandu.” Selama ini kami menggunakan rumah warga,” katanya.

Pj Kepala Desa Dadibou Supriyadi menyampaikan terimakasih kepada Solud yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut di desa setempat.” Ini bentuk dukungan Solud kepada desa kami,” ujarnya.

Katanya, satu-satunya desa yang menjadi sasaran Solud di Kecamatan Woha hanya Desa Dadibou. Itu artinya pemdes setempat mendapat perhatian khusus.” Kami mendapat banyak pengetahuan baru dari kegiatan yang diadakan ini,” katanya. (Lb. Dhaus).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *