5820197488
Tasbih. Foto: Google.

Jejak Da’i Kelana (Nasab Ulama Karomah Di Bima dan Dompu)

Oleh : Alan Malingi

LENSABIMA. COM. – Abad XVIII, seorang da i kelana dari Mekkah kelahiran Bagdad tiba di Banten. Dia dikenal dengan nama Abdul Karim Al Bagdadi. Kedatangannya ke nusantara disamping untuk berdakwah dan berdagang adalah untuk mencari saudaranya yang juga bernama Abdul Karim. Dia mendapatkan kabar bahwa saudaranya itu ada di pulau Sumbawa.

Abduk Karim kemudian menuju pulau Sumbawa melalui Jawa Tinur. Lalu dia tiba di Dompu, alangkah sedihnya Abdul Karim mendengar berita bahwa saudaranya itu telah meninggal dunia.

Abdul Karim bermukim di Dompu untuk berjualan tembakau sambil berdakwah. Cara penjualan Abdul Karim cukup unik. Dagangannya tidak boleh dibeli dengan uang atau dibarter dengan barang. Guna memperoleh tembakau dagangan Abdul Karim harus dibeli dengan menghcapkan dua kalimat sahadat.(Abdullah Tayib, BA, Sejarah Bima Dana Mbojo, 407).

Dakwah dan dagangan Abdul Karim menjadi viral dan meluas bahkan sampai ke Bima. Hal itu menarik perhatian Sultan Dompu dan beliau diangkat menjadi menantu.( Muslimin Hamzah, Ensiklopedia Bima, hal 62)

Dari pernikahan itu Abdul Karim dikaruniai putra yang bernama Ismail. Selanjutnya Ismail melahirkan Syekh Subuh( Ada juga yang menyebut Subhi.Dalam buku ensiklopedia Bima dan Sejarah Bima Dana Mbojo disebut Subur). Syekh Subuh menikah dengan gadis Sarita Donggo dan melahirkan Syekh Abdul Gani. Syekh Subuh adalah Imam di Kesultanan Bima di masa pemerintahan Sultan Alauddin Muhamad Syah (1731-1748). Beliau adalah penulis mushaf Alquran La Lino. Sedangkan syekh Abdul Gani adalah Imam Masjidil Haram di paroh abad ke 19 dan menjadi guru para ulama nusantara termasuk Kiyai Hasyim As ‘ari.

Syekh Abdul Gani dikenal dengan Abdul Gani Al Bimawi. Beliau melahirkan syekh Mansyur atau oleh orang orang Dompu menyebutnya dengan Sehe Jado. Syekh Mansyur melahirkan Syekh Mahdali atau yang dikenal dengan Sehe Boe dan Syekh Muhammad. Sehe Boe bermukim di Kareke Dompu , sedangkan Syekh Muhammad bermukim di kampung Melayu Bima. Syekh Muhammad menjadi ketua Partai Serikat Islam Cabang Bima(1920-1923). Partainya dikenal dengan Partai Ruma Sehe.

Di Masa tuanya Abdul Karim menetap di So Nggela di teluk Bima dan di makamkan di So Nggela. Menurut Infrormasi dari Sambori, syekh subuh menetap di Sambori setelah pensiun dari Imam Kesultanan Bima. Syekh Subuh dimakamkan di Sambori. Syekh Abdul Gani kembali ke Mekkah dan meninggal di akhir abad ke 19. Syekh Mansyur menetap di Dompu dan dimakamkan di wilayah Magenda Dompu. Syekh Mahdali mengakhiri masa tua di Kareke Dompu dan dimakamkan di Kareke. Syekh Muhammad dimakamkan di pemakaman umum di tanjakan Ule Kota Bima.

Sumber bacaan :

1. Abdullah Tayib,BA, Sejarah Bima Dana Mbojo.
2. Muslimin Hamzah, Ensiklppedia Bima

Narasumber :

Drs. H.Najamuddin ( Ami Di), Putera dari Sehe Boe. Kareke Dompu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *