WhatsApp-Image-2019-11-25-at-00.33.181

Hutan Dompu Hancur. Muzakir: Setiap Program Pasti Memiliki Resiko

Kabupaten Dompu, LENSABIMA.COM.- Sebagian besar warga Dompu bergelut di bidang Pertanian, hal ini dibuktikan penghasil Jagung terbesar salah satunya Kabupaten Dompu. Dibalik keberhasilan ini diketahui pula kehancuran Hutan akibat dari sebuah Program.

Kepala Kesatuan Pengelola Hutan Ampang Riwo Soromandi (KPH_ARS) melalui Kasi Perencanaan Hutan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kusmari Hari S. Hut, menjelaskan, sistim tanam yang dilakukan oleh para Petani yaitu Homogen. Hanya menanam satu jenis tanaman yaitu Jagung.

“Kalau hanya sekedar Jagung mana bisa menahan debit air yang datang dari arah Bukit. Fungsi pohon Tegakan itu sebagai penahan tanah, air dan bebatuan yang mengarah ke muara,” kata Kusmari pada wartawan Lensa Bima, Senin (25/11/2019) sekira pukul 12.20 Wita saat ditemui di Kantornya.

Ia jelaskan, Pemerintah telah memberikan regulasi terkait kemitraan. Bagi masyarakat yang sudah lama tinggal di sekitar hutan bisa memanfaatkan hutan yang telah tidur, namun akan ada verfikasi lapangan apabila layak akan ditetapkan sesuai dengan permohonan (Maksimal 2 Ha per KK).

“Dalam hal ini kami selalu dibenturkan dengan verifikasi dikarenakan data yang berubah ubah yang diajukan sehingga dapat menghambat verifikasi. Disinilah awal mula semakin luasnya kerusakan Hutan yang dilakukan oleh oknum yang dimana lahan yang dulunya sedikit kini semakin melebar,” jelas Kusmari.

Lanjut Kusmari, masyarakat selama ini dinilai melakukan perladangan liar dimana perlu waktu untuk merubah pola pikir masyarakat tersebut. Kata dia, pendampingan dinilai masih kurang, Pemerintah diharapkan lebih memberikan perhatian terhadap hal tersebut dengan melakukan sosialisasi terkait perkebunan yang heterogen (Lebih dari satu jenis tanaman) tidak hanya pohon jagung yang di tanam.

“Selama ini kawasan hutan hanya diperhatikan secara ekologi, diharapkan adanya pemanfaatan dari segi ekonomi juga harus berkaca dari sistem berkebun di eropa, perlu kesabaran dalam rangka memetik hasil yang maksimal baik dari segi ekologi dan keuntungan ekonomi,” inginnya.

Salah satu sarat menjadi mitra KPH diwajibkan kelompok menanam pohon tegakan, akan tetapi masyarakat lebih cenderung menanam Jagung. Dampak terburuknya mata air akan berkurang, rawan erosi dan panas berkepanjangan.

“Harapan kami bagi yang bermitra dengan pemerintah seharusnya menanam jenis kemiri, mahoni, durian dan sengon. Kami berharap kesadaran dari masyarakat itu sendiri bahwa Hutan adalah paru paru Dunia,” tutupnya.

Hal serupa yang disampaikan KPH_ARS dibagian Kasubag TU, Muzakir, mengatakan, secara garis besar perubahan aturan tersebut dalam rangka merubah pola pikir masyarakat sehingga dapat menjadi petani menetap tanpa ladang yang berpindah.

“Setiap program pasti memiliki resiko, diharapkan adanya kesadaran dari masyarakat untuk dapat menangkal setiap resiko seperti banjir dan hilangnya sumber mata air,” katanya.

Salah satu alternatif untuk mencegah hal tersebut perlu adanya penanaman pohon yang heterogen, maka resapan air akan maksimal dan mencegah potensi banjir.”Berdasarkan hal tersebut diharapkan hutan lestari, rakyat sejahtera,” harap Muzakir. (Lb: Bang Chan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *